Jakarta –
Ke sudut kawasan Melawai, Jakarta Selatan, terdapat sebuah ruang yang pernah diam-diam menjadi saksi hari-hari penuh semangat komunitas sepeda Ke ibu kota. Taman Sepeda Melawai milik Federasi Sepeda Indonesia (KSI) kini tampak seperti taman kota Ke umumnya.
Padahal sepuluh tahun lalu, tempat ini dipenuhi energi ribuan pesepeda Di berbagai penjuru. Kisah Taman Sepeda Melawai melampaui sekadar pembangunan infrastruktur.
Taman itu merekam semangat kolektif yang sempat mencapai puncaknya. Sayang, Lalu perlahan memudar Ke Ditengah laju pembangunan kota yang tak kenal lelah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ilyas, pemandu Jakarta Good Guide (JGG), asal-usul taman ini dimulai Di peristiwa penting Ke 2010. Di itu, Jakarta Selatan menjadi pusat perhatian komunitas sepeda nasional. Lebih Di 200 komunitas Naik Sepeda Di berbagai Area berkumpul Ke lokasi tersebut.
“Waktu itu, Di 200 komunitas hadir Di kurang lebih 2.500 peserta. Ada kongres sepeda pertama yang digelar Ke sini, Malahan sampai Memperoleh Pencapaian MURI,” ujar Ilyas kepada detikTravel, Jumat (2/1/2026).
Lonjakan jumlah pesepeda kala itu Mendorong lahirnya Taman Sepeda Melawai KSI. Momentum itu sekaligus menandai pencapaian penting, yakni pembangunan jalur sepeda pertama Ke Provinsi DKI Jakarta.
|
Taman Sepeda Melawai (Hans Wilhem)
|
Jalur sepanjang 4,5 kilometer itu membentang Di Taman Ayodya, melewati Jalan Mahakam, menyeberangi Melawai Raya, hingga berakhir Ke Kantor Wali Kota Jakarta Selatan. Rute ini menjadi simbol pengakuan keberadaan pesepeda Ke ruang kota yang Di ini didominasi kendaraan bermotor.
Upaya pembangunan jalur sepeda kembali Memperoleh momentum Ke 2019. Pemerintah memperluas jaringan jalur sepeda hingga puluhan kilometer Ke berbagai ruas jalan Jakarta.
Berdasarkan penuturan Ilyas, Ke tahun tersebut Di 63 hingga 69 kilometer jalur sepeda telah dibangun. Proyek ini menelan Dana besar, Di biaya diperkirakan mencapai Rp 43 miliar hingga Rp 79 miliar.
Tetapi, besarnya Penanaman Modal Asing itu justru menyisakan ironi.
“Tahun 2019 bikin kurang lebih 63 kilometer Di nominal Di Rp 79 miliar. Sekarang, 69 kilometer jalur sepeda itu tidak terpakai dan malah digunakan Kendaraan Bermotor Roda Dua,” kata dia.
Ruang yang semula dirancang ramah Untuk pesepeda kini berubah menjadi Area dominasi pengendara Kendaraan Bermotor Roda Dua. Pesepeda pun kembali terdesak Hingga tepi jalan, kehilangan ruang yang seharusnya menjadi hak mereka.
Di ini, pengunjung Taman Sepeda Melawai KSI Bisa Jadi sulit menemukan sisa-sisa kegembiraan pesepeda yang pernah mewarnai kawasan tersebut Ke 2010.
“Kayaknya sudah enggak ada. Orang-orang sudah enggak Hingga sini lagi. Dari Sebab Itu cuma Dari Sebab Itu taman biasa,” kata Ilyas.
Dibagian Di Taman Sepeda Melawai (Hans Wilhem) |
Tempat yang dulu ramai Dari kongres sepeda dan ribuan peserta kini kembali sunyi. Taman Sepeda Melawai KSI menjadi pengingat bahwa membangun infrastruktur fisik-Malahan Di Penanaman Modal Asing puluhan miliar Uang Negara Indonesia-tidak otomatis menjamin Sustainability Kearifan Lokal Dunia Naik Sepeda.
Tanpa penegakan aturan yang tegas Di jalur sepeda dan tanpa upaya menghidupkan kembali komunitasnya, kilometer Untuk kilometer jalur sepeda berisiko berubah menjadi aspal mahal yang dilintasi roda Kendaraan Bermotor Roda Dua.
Sambil Itu, taman yang pernah menjadi simbol perjuangan pesepeda pun kembali menjadi taman biasa-biasa saja.
(fem/fem)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Taman Sepeda Melawai yang Ditinggalkan Kini Tak Ada Lagi Kegembiraan












