Pemerintah Berencana segera menetapkan label ‘Nutri Level’. Mirip Bersama ‘Nutri Grade’ Singapura, label ini dicantumkan Di Ketahanan Pangan olahan maupun siap saji Bersama kriteria A sampai D.
Salah satu pertimbangan Di balik penetapan ‘Nutri Level’ adalah tingginya Peristiwa Pidana diabetes Di Indonesia imbas konsumsi minuman tinggi gula. Pasalnya, komplikasi diabetes bisa berujung Di masalah ginjal, yang belakangan pembiayaannya melonjak drastis hingga 9 kali lipat menurut data BPJS Kesejaganan Di 2025.
Hingga kini, kriteria Nutri Level yang Mutakhir ditetapkan adalah sebagai berikut:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- A (warna hijau tua: kandungan GGL lebih rendah)
- B (warna hijau muda: kandungan GGL rendah)
- C (warna kuning: perlu dikonsumsi Bersama bijak)
- D (warna merah: perlu dibatasi sesuai kebutuhan atau Kebugaran Kesejaganan).
Belum ada keterangan resmi Yang Berhubungan Bersama kadar gula, garam, dan lemak Di setiap kriteria level.
Pakar epidemiologi Dicky Budiman menilai efektivitas penerapan label Nutri Level bergantung Di penjelasan klasifikasi dan sosialisasi sejumlah kementerian, lembaga. Menurutnya, banyak Kelompok minim literasi yang Di akhirnya menganggap level D tidak berbahaya.
Dicky menyebut konsumen kerap kali menganggap level terendah menjadi pilihan terakhir, hingga muncul anggapan tidak masalah mengonsumsinya sesekali.
“Dan mereka menganggap bukan sebagai peringatan bahaya, ini yang bisa menimbulkan optimism bias, Karena Itu tanpa narasi yang kuat, konsumen atau publik Kelompok Bersama literasi rendah itu cenderung merasa bahwa mengonsumsi Ketahanan Pangan level D sesekali tidak berdampak jangka panjang,” sebut dia Di dihubungi detikcom Selasa, (14/4/2026).
Tanpa komunikasi yang jelas Yang Berhubungan Bersama komposisi tinggi gula, garam, lemak (GGL), serta warning potensi Gangguan tidak menular, penerapan Nutri Level hanya terhenti Di regulasi label Mutakhir.
Mengutip studi behaviour economic, Dicky menekankan kata kerja lebih eksplisit nyatanya efektif Menyediakan perubahan, ketimbang hanya berupa klasifikasi netral yang rentan memicu bias.
“Karena Itu perlu penajaman terminologi. Sebetulnya bisa mewajibkan pencantuman teks peringatan yang lebih tegas, lugas, jelas, tambahkan keterangan ekspilist tinggi gula, garam, lemak, batas konsumsi,” sorot dia.
Hal ini yang juga disebutnya dilakukan Singapura Di penerapan label NutriGrade. Bersama mulai menggabungkan sistem Yang Berhubungan Bersama bersama keterangan peringatan, pemerintah setempat mampu membuat lebih banyak industri mereformulasi produk mereka lebih sehat. Walhasil, ikut berdampak Di Peristiwa Pidana obesitas yang menurun lebih Bersama tiga persen.
“Karena Itu misalnya kalau ada satu level jatuh Ke produk D Lantaran gula yang sangat tinggi, label itu harus Menunjukkan profil tersebut secara spesifik, misalnya, visualisasi merah yang lebih dominan, atau simbol peringatan Di Di huruf D,” tuturnya.
Pemerintah disebut Dicky juga harus mampu Merangsang para industri membuat produk mereka menjadi rendah GGL. Artinya, tidak hanya bergantung para perilaku konsumen.
Hal itu disebutnya lebih efektif Bagi menekan konsumsi tinggi GGL yang otomatis berdampak Di menurunnya Peristiwa Pidana diabetes, obesitas, hingga Gangguan tidak menular lainnya.
Ia menyayangkan bila kriteria level D dibuat terlalu longgar, atau penjelasan instruksinya relatif terlalu lunak, industri tentu tidak Berencana Memperoleh dasar yang cukup kuat Bagi mengubah produk mereka menjadi lebih sehat, Ke level A.
Halaman 2 Bersama 2
Simak Video “Video: Pria Idap Diabetes Sebelum Usia 16 Tahun, Kini Suntik Insulin Tiap Hari“
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: RI Segera Sahkan Nutri Level, Pakar Beri Catatan Penjelasan Level D Tak Dibuat ‘Netral’











