loading…
Dosen FDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Mengapa Harus Aksi Penolakan?
Gelombang Protes Ke Jakarta dan Ke kota-kota besar Ke Indonesia Ke akhir bulan (25-29 Agustus 2025) menjadi peristiwa yang harus dijadikan sebagai pembelajaran Bagi Indonesia. Banyak pemerhati, mantan politisi, dan pengamat sosial menilai peristiwa ini sebagai akumulasi kemarahan rakyat Indonesia atas perilaku para wakilnya yang Di ini duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (Dewan Perwakilan Rakyat), baik pusat maupun Area. Misalnya, Jusuf Kalla (mantan Wakil Kepala Negara RI) dan Nicky Fahrical (peneliti CSIS), keduanya menilai banyak Keputusan yang tidak sesuai Di nalar publik dan tidak tepat sasaran. Ditambah sikap dan perkataan pejabat yang terkesan sangat arogan (dikutip Untuk berbagai sumber).
Kenaikan Biaya Bagi gaji dan tunjangan Bagi Dewan Perwakilan Rakyat, menurut penulis, merupakan wujud Untuk tidak adanya perasaan krisis sosial (sense of social crisis) Ke hati mereka yang menyebut dirinya wakil rakyat. Ini ketimpangan sosial namanya. Situasi ekonomi Indonesia Di ini Untuk tidak baik-baik saja. Hampir semua kelas merasakan impitan masalah ekonomi. Gaji pas-pasan, Pemutusan Hubungan Kerja (Pemecatan Karyawan) Ke mana-mana, sulitnya mencari pekerjaan, mahalnya biaya hidup, dan Kesenjangan Ekonomi Ke mana-mana, tapi gaji dan tunjangan anggota Dewan ratusan juta. Ini ironi.
Ke sinilah, rakyat mulai menyampaikan ketidaksetujuan atas kenaikan gaji yang tidak setara Di kinerja anggota Dewan. Mereka menyuarakan Melewati berbagai platform media digital yang Setelahnya Itu cepat menyebar dan dapat direspons Di anggota Dewan. Akan Tetapi apa yang terjadi, tanpa kita duga beberapa oknum anggota Dewan justru merespons Di kalimat-kalimat kasar, kalimat menyindir, dan Malahan mereka mempertontonkan euphoria kegembiraan mereka Di berjoget Ke Tempattinggal wakil rakyat. Secara etis, tentu ini sangat menyakitkan Bagi warga. Bukannya mereka Menunjukkan sensitivitas mereka Di Situasi ketimpangan sosial ekonomi Komunitas, mereka justru, berkata dan bersikap Di sangat tidak Menunjukkan empati.
Sebagai Komunitas yang sudah mulai kritis dan teredukasi, kita dapat melihat bahwa pemerintah tidak Memperoleh rasa keberpihakan Pada keadilan sosial (sense of social justise) dan kepanikan sosial (social crisis). Rakyat tentu Penolakan atas ketidakkonsistenan pemerintah, satu sisi semua diminta Bagi melakukan efisiensi, atau bahasa orang awam “ngiritisasi” Biaya, Akan Tetapi justru anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan para pejabat tetap hidup bermewah-mewah.
Ke tanggal 25 Agustus 2025, massa yang kebanyakan mengatasnamakan mahasiswa mulai bergerak Di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat RI Bagi menuntut pembatalan kenaikan gaji dan berbagai tunjangan Bagi anggota Dewan. Protes Aksi Penolakan Setelahnya Itu meluas, tidak hanya mahasiswa, Akan Tetapi juga Untuk komponen buruh. Salah satu peserta Aksi Penolakan yang Di itu ditanya Di wartawan (BBC News Indonesia), Alfin, pengemudi ojek online yang ikut Aksi Penolakan bersama rekan-rekannya Mengungkapkan, “Saya sengaja ikut Aksi Penolakan Sebab Ke mata saya Keputusan pemerintah tidak mendukung rakyat. Kami susah mencari uang, tapi gaji mereka besar sekali.”
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Hilangnya Sense of Social Crisis