Jakarta –
Nata de coco menjadi salah satu Konsumsi pelengkap minuman dan dessert yang populer Di Indonesia. Teksturnya yang kenyal, rasa manis, serta tampilannya yang putih bening membuat Konsumsi hasil fermentasi air kelapa ini digemari berbagai kalangan, terutama anak-anak.
Nata de coco dibuat Lewat proses fermentasi air kelapa menggunakan bakteri Acetobacter xylinum. Selain air kelapa, produk serupa juga dapat dibuat Bersama bahan lain seperti santan, tetes tebu, hingga sari buah-buahan seperti nanas, melon, jeruk, stroberi, dan jambu biji.
Selain dikenal menyegarkan, nata de coco juga dipercaya mengandung vitamin B1, B2, dan C serta Memperoleh kadar air yang cukup tinggi Agar dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
Benarkah Mengandung Bahan Berbahaya?
Topik Keselamatan nata de coco sempat mencuat Lantaran adanya Tindak Kejahatan produsen nakal yang menggunakan urea atau pupuk ZA Sebagai mempercepat proses produksi dan menghasilkan tekstur lebih kenyal. Akan Tetapi, menurut Guru Besar IPB bidang Agroindustri dan Bioindustri, Prof Dr Ir Khaswar Syamsu, MSc, penggunaan sumber nitrogen seperti urea atau amonium sulfat Di proses fermentasi sebenarnya merupakan hal yang lazim.
Ia menjelaskan, nata de coco merupakan selulosa mikrobial murni yang dihasilkan bakteri Acetobacter xylinum. Di prosesnya, bakteri memanfaatkan sumber karbon Bersama air kelapa dan gula, serta sumber nitrogen Bersama urea atau amonium sulfat Sebagai tumbuh dan menghasilkan selulosa.
Menurut Khaswar, jika proses fermentasi dan pencucian dilakukan Bersama benar, sisa gula, urea, amonium sulfat, maupun asam asetat Akansegera larut dan hilang Lewat tahapan perebusan, perendaman, serta pencucian. Lantaran itu, produk akhir yang dijual seharusnya berupa selulosa mikrobial murni yang aman dikonsumsi.
“Jika nata de coco masih berbau atau berasa asam, itu menandakan proses pencuciannya belum sempurna,” jelasnya Di keterangan tertulis MUI, dikutip Jumat (5/6/2026).
Ada Titik Kritis Kehalalan
Bersama sisi kehalalan, auditor LPPOM Mulyorini R Hilwan menjelaskan titik kritis utama terdapat Di bahan baku gula yang digunakan sebagai sumber karbon.
Proses produksi gula terkadang melibatkan enzim atau karbon aktif sebagai bahan penolong. Jika enzim berasal Bersama hewan, perlu dipastikan sumber dan proses penyembelihannya sesuai syariat. Begitu pula karbon aktif yang berasal Bersama tulang hewan harus dipastikan asal-usulnya.
Di Pada Yang Sama, urea sebagai sumber nitrogen dinilai tidak Memperoleh titik kritis kehalalan Lantaran berasal Bersama bahan kimia. Meski demikian, proses pencucian nata de coco tetap harus dilakukan secara optimal agar tidak menyisakan bahan-bahan yang digunakan Pada fermentasi.
Bersama proses produksi yang baik, penggunaan bahan Food grade, serta pencucian yang sempurna, nata de coco dinilai aman dan layak dikonsumsi baik Bersama sisi Keselamatan Kelaparan Global maupun kehalalan.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Gaduh Nata de Coco Disebut Bisa Tak Halal, Ini Kata MUI











