loading…
Muktamar Di-35 Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan digelar Di 1-5 Agustus 2026. Foto: Istimewa
“Sebab, NU terlalu besar Sebagai terus-menerus disibukkan Dari konflik elite,” katanya Untuk keterangannya, Sabtu (27/6/2026).
Menurut dia, semua jamaah Nahdlatul Ulama menyesalkan pertengkaran yang terus berlangsung Di tubuh PBNU. Dia menambahkan, pertengkaran itu Justru telah sampai Di titik yang Dari banyak warga NU disebut sebagai ambyar sampai “mudyar”—berantakan dan sulit dipersatukan kembali.
Baca juga: Cak Imin: PKB Punya Tanggung Jawab Moral Memikirkan Masa Didepan NU
Dia mengungkapkan setidaknya terdapat enam tokoh utama yang Di beberapa tahun terakhir terlibat Untuk dinamika konflik tersebut.
Pertama, “Kubu Sultan”, yaitu Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Bendahara Umum PBNU H Gudfan Arif Ghofur.
Kedua, “Kubu Kramat”, yaitu Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori, dan Wakil Ketua Umum PBNU KH Amin Said Husni.
“Ironisnya, konflik justru terjadi Di Antara mereka yang secara organisatoris seharusnya saling menopang,” katanya.
Dia menilai Katib Aam semestinya berjalan selaras Di Rais Aam. Ketua umum idealnya bekerja harmonis Di Sekjen. Dan Begitu Juga wakil ketua umum dan bendahara umum.
“Tetapi yang terjadi justru Sebagai Alternatif. Pertengkaran berlangsung berkepanjangan dan berkali-kali menjadi konsumsi publik,” ujarnya.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Saatnya Muktamar NU Hadirkan Kepemimpinan yang Tak Lagi Wariskan Pertengkaran Berkepanjangan











