Ramai Topik Seller Tinggalkan Marketplace, Data DOKU Justru Berkata Lain!

loading…

Pribadi Hasto Kusumo, Head of SME Business DOKU, menyebut ada fakta berbeda Di Topik seller yang meninggalkan marketplace belum lama ini. Foto: DOKU

JAKARTA – Topik perpindahan penjual Di marketplace menjadi salah satu perbincangan paling ramai Hingga kalangan pelaku usaha digital Indonesia sepanjang awal 2026.
Hingga media sosial, seruan Sebagai meninggalkan platform besar bermunculan Sesudah sejumlah penyesuaian biaya diberlakukan. Akan Tetapi data yang dihimpun penyedia jasa pembayaran justru menggambarkan situasi yang lebih terukur daripada yang tergambar Hingga lini masa.

Pribadi Hasto Kusumo, Head of SME Business DOKU, menilai istilah yang Di ini dipakai kurang tepat Sebagai menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi Hingga lapangan. “Sebenarnya perlu sedikit diluruskan bahwa pelaku Dan Menengah bukan kabur, tapi melakukan penyeimbangan ulang. Yang terjadi Hingga lapangan bukanlah eksodus. Brand tidak menutup toko mereka, melainkan menyeimbangkan ulang Usaha mereka agar tidak bergantung 100 persen Ke satu platform,” ujar Hasto Di wawancara khusus Di SINDOnews.

Menurut dia, langkah tersebut merupakan respons yang wajar Di kenaikan biaya berlapis Hingga marketplace sepanjang tahun ini, termasuk penyesuaian biaya administrasi dan Pengiriman Ke 2026. “Ketika beban naik dua sampai tiga kali Di setahun, wajar kalau brand mulai berhitung ulang. Dan yang mengubah perilaku sebetulnya bukan besarnya kenaikan, tapi keyakinan bahwa kenaikan itu bisa terjadi lagi. Itu yang membuat brand mulai membangun jaring pengaman,” katanya.

Kegelisahan pelaku usaha itu telah sampai Hingga tingkat kementerian. Pembantu Kepala Negara Dan Menengah Maman Abdurrahman Mengungkapkan keluhan mengenai biaya platform masuk hampir setiap hari Lewat pesan langsung Instagram, Facebook, maupun WhatsApp. Kementerian Perdagangan pun mempercepat revisi Peraturan Pembantu Kepala Negara Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023, yang Antara lain mewajibkan platform Pasar Online merinci seluruh komponen biaya kepada penjual. Pembantu Kepala Negara
Perdagangan Budi Santoso menyebut revisi tersebut telah memasuki tahap finalisasi Ke pertengahan Mei 2026 silam.

Hingga sisi tarif, sejumlah marketplace memberlakukan kenaikan tarif layanan. Di biasanya 1,5 persen menjadi 2 persen. Hingga beberapa kategori seperti Mode, misalnya, kenaikannya Di 5,5 persen menjadi 7,5 persen per transaksi. Di pertanyaan mengenai adanya pergeseran kanal, Hasto lebih dahulu menjelaskan keterbatasan sudut pandang perusahaan.

“DOKU melihat transaksi yang berlangsung Hingga kanal langsung merchant, bukan transaksi mereka Hingga marketplace. Lantaran itu, kami tidak mengukur berapa banyak merchant yang meninggalkan marketplace. Yang dapat kami ukur adalah perkembangan kanal langsungnya,” ujarnya. Di sudut pandang tersebut, angkanya justru Di dugaan. “Ke merchant yang aktif bertransaksi Hingga kedua periode Januari-Juli 2025 dan Januari-Juli 2026, jumlah transaksinya Meresahkan lebih Di dua kali lipat, dan trend menunjukan Akansegera Lebih Meresahkan. Hal ini menunjukan brand lokal Lebih sadar Akansegera pentingnya kanal penjualan mandiri,” kata Hasto.

Perkembangan itu tidak terkonsentrasi Ke segelintir merchant besar. Berdasarkan data internal DOKU Ke periode Januari-Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun Sebelumnya, lebih Di sepertiga merchant berhasil Meningkatkan jumlah transaksi Hingga kanal mandirinya lebih Di dua kali lipat. Secara keseluruhan, separuh Di total merchant aktif juga mencatatkan Perkembangan nilai transaksi setidaknya 20 persen.

Meski demikian, Hasto menolak membaca angka tersebut sebagai tanda berpindahnya pasar.

Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Ramai Topik Seller Tinggalkan Marketplace, Data DOKU Justru Berkata Lain!