Belum lama ini, otoritas Keadaan Australia mengonfirmasi temuan Tindak Kejahatan campak atau measles yang dibawa Bersama seorang warga Jakarta, Indonesia. Bangsa Pada New South Wales Menerbitkan peringatan publik Untuk mencegah adanya wabah lokal.
Merespons kejadian tersebut, Mantan Direktur Infeksi WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Peregangan Aditama mengungkapkan campak memang masih menjadi salah satu masalah Keadaan serius Di Indonesia. Menurut data Dunia Measles Outbreack Untuk Center of Disease Control and Prevention (CDC) AS, Indonesia menduduki Posisi kedua Bersama Tindak Kejahatan terbanyak Di dunia.
“Data ini didasarkan Di data pengawasan bulanan Sambil yang dilaporkan kepada WHO per Januari 2026. Data yang tercantum mencakup periode Juli 2025 – Desember 2025,” ungkap Prof Tjandra Di detikcom, Minggu (22/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Urutan pertama diduduki Bersama Yaman Bersama 11.288 Tindak Kejahatan campak. Sambil Indonesia Memperoleh 10.744 Tindak Kejahatan campak.
Jumlah ini Malahan lebih tinggi Untuk India Di posisi ketiga yang Memperoleh Penduduk Dunia jauh lebih banyak dibanding Indonesia, Bersama jumlah 9.666 Tindak Kejahatan.
Jumlah Tindak Kejahatan campak Di Indonesia Menunjukkan Gaya peningkatan. Di tahun 2022, jumlah Tindak Kejahatan campak terkonfirmasi sebanyak 4.800 Tindak Kejahatan. Setelahnya Itu naik menjadi 10.600 Tindak Kejahatan Di 2023, dan sempat menurun menjadi lebih Untuk 3.500 Tindak Kejahatan.
Akan Tetapi, Di tahun 2025, terjadi peningkatan kembali sampai lebih 3.400 Tindak Kejahatan hanya sampai bulan Agustus. Dilaporkan juga ada total 46 kejadian luar biasa (KLB) campak sepanjang tahun 2025 hingga bulan Agustus.
“Disebutkan bahwa meningkatnya Tindak Kejahatan campak Di Indonesia yang berkaitan Bersama turunnya cakupan imunisasi rutin lengkap Untuk beberapa tahun terakhir,” kata Prof Tjandra.
Cakupan imunisasi campak-rubela (MR) dosis pertama (MR1) dan kedua (MR2) juga masih jauh Untuk target 95 persen Untuk membentuk kekebalan kelompok. Di 2024, cakupan MR1 sebesar 92 persen dan MR2 sebesar 82,3 persen.
Gaya ini Setelahnya Itu yang berimbas langsung Di meningkatnya Tindak Kejahatan campak. Menurut Prof Tjandra, data-data tersebut Menunjukkan penanganan campak harus tetap menjadi perhatian.
“Data-data ini kembali Menunjukkan bahwa kita perlu memberi perhatian penuh Di pengendalian Penyakit campak dan juga Infeksi Di umumnya, termasuk Meningkatkan cakupan imunisasi kita,” tandasnya.
Halaman 2 Untuk 2
(avk/naf)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Mantan Petinggi WHO Soroti Campak Di RI, Respons Temuan Tindak Kejahatan ‘Perdagangan Masuk Negeri’ Di Australia











