Larangan membawa tumbler Di sejumlah restoran kerap memicu perdebatan. Sebagian konsumen menilainya berlebihan, Sambil yang lain menganggapnya sebagai upaya menjaga kebersihan dan Perlindungan Ketahanan Pangan. Di sudut pandang ilmiah, Permasalahan ini sebenarnya tidak sesederhana boleh atau tidak membawa wadah minum sendiri. Risiko kontaminasi mikroba sangat dipengaruhi Dari kebiasaan penggunaan, frekuensi pembersihan, serta bagaimana benda-benda personal berinteraksi Bersama Konsumsi Di ruang makan publik.
Di konteks ini, tumbler sering menjadi sorotan. Akan Tetapi, pertanyaan penting lain muncul: apakah tumbler memang satu-satunya sumber risiko kontaminasi, atau ada benda sehari-hari lain seperti Smart Phone, yang justru luput Di perhatian, meski sering disentuh dan jarang dibersihkan?
Tumbler: Risiko Kontaminasi Langsung Di Perlindungan Ketahanan Pangan
Di konteks Perlindungan Ketahanan Pangan, tumbler atau botol minum isi ulang Berpotensi Untuk menjadi sumber kontaminasi mikroba Lantaran bersentuhan langsung Bersama mulut dan minuman. Risiko ini terutama Meresahkan bila tumbler jarang dibersihkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi yang dimuat Di Journal of Food Protection dan Journal of Environmental Health Menunjukkan bahwa Disekitar 60-80 persen botol minum guna ulang mengandung bakteri, terutama Di tumbler yang jarang dicuci. Mikroorganisme yang paling sering ditemukan meliputi Staphylococcus spp. dan Streptococcus spp. Di kulit dan rongga mulut, serta bakteri coliform seperti Escherichia coli Di Disekitar 5-20 persen tumbler sebagai indikator kebersihan yang kurang optimal.
Kontaminasi paling banyak ditemukan Di Dibagian tutup, sedotan, dan ulir botol, area yang sulit dijangkau Di mencuci. Situasi lembap akibat sisa minuman juga dapat mendukung Kemajuan bakteri bila tumbler tidak dikeringkan Bersama baik.
Perbedaan kebiasaan mencuci berpengaruh besar. Tumbler yang dicuci setiap hari menggunakan sabun tercatat Memperoleh tingkat kontaminasi bakteri lebih rendah hingga 50-70 persen dibandingkan tumbler yang hanya dibilas atau jarang dicuci. Temuan ini Menunjukkan bahwa meski tumbler termasuk risiko paparan langsung, potensi tersebut sebenarnya dapat dikendalikan Melewati kebiasaan kebersihan yang tepat.
Smart Phone dan Produk Internasional Sehari-hari: Sumber Mikroba yang Sering Terlupakan
Jika Di tumbler risiko kontaminasi terutama muncul Lantaran kontak langsung Bersama mulut dan minuman, situasinya berbeda Di Smart Phone dan Produk Internasional pribadi lain yang hampir selalu dibawa Hingga mana pun. Meski tidak bersentuhan langsung Bersama Konsumsi, Smart Phone kerap berperan sebagai perantara kontaminasi mikroba Lantaran sering disentuh dan jarang dibersihkan.
Berbagai Studi yang dipublikasikan Di Journal of Environmental Health, BMC Infectious Diseases, dan American Journal of Infection Control Menunjukkan bahwa Disekitar 70-90 persen Smart Phone yang diperiksa terkontaminasi bakteri. Mikroorganisme yang paling sering ditemukan meliputi Staphylococcus spp. dan Streptococcus spp. yang berasal Di kulit dan tangan, serta Enterococcus spp. dan Bacillus spp. Di lingkungan. Sejumlah studi juga melaporkan keberadaan bakteri indikator sanitasi seperti Escherichia coli Di sebagian Smart Phone-Di kisaran 10-30 persen-yang mengindikasikan kemungkinan paparan Di lingkungan yang kurang higienis.
Temuan ini menegaskan bahwa Smart Phone Berpotensi Untuk menjadi sumber kontaminasi silang, terutama ketika digunakan Sebelumnya atau Di makan, lalu diletakkan Di Tatakan dan disentuh kembali tanpa cuci tangan. Berbeda Bersama tumbler yang umumnya setidaknya pernah dicuci, Smart Phone justru menjadi benda personal yang paling jarang dibersihkan meski intensitas kontaknya sangat tinggi.
Risiko Berbeda, Jalur Paparan Berbeda
Meski jenis bakteri yang ditemukan Di tumbler dan Smart Phone kerap mirip, para peneliti menegaskan bahwa perbedaan utama keduanya terletak Di jalur paparannya. Inilah yang membuat risiko kontaminasi Di kedua benda tersebut tidak bisa disamakan, Kendati sama-sama Berpotensi Untuk membawa mikroba. Di kajian Perlindungan Ketahanan Pangan yang dibahas Di Journal of Food Protection dan International Journal of Food Microbiology, risiko dibedakan Antara paparan langsung Melewati Konsumsi atau minuman dan paparan tidak langsung Melewati kontaminasi silang.
Di tumbler, risiko muncul Lantaran kontak langsung Bersama mulut dan minuman. Jika tumbler terkontaminasi, bakteri dapat masuk Hingga tubuh tanpa perantara, Agar dikategorikan sebagai direct exposure. Meski demikian, berbagai Studi Menunjukkan bahwa tingkat risiko ini sangat dipengaruhi Dari kebiasaan Pemakai, dan dapat ditekan secara signifikan Bersama mencuci tumbler setiap hari menggunakan sabun, termasuk membersihkan Dibagian tutup dan sedotan.
Sambil Itu, Di Smart Phone, paparan bersifat tidak langsung. Sejumlah studi yang dipublikasikan Di Journal of Environmental Health dan American Journal of Infection Control menjelaskan bahwa Smart Phone dapat berperan sebagai fomite, yakni benda mati yang memindahkan mikroorganisme Melewati tangan Hingga permukaan lain, termasuk Tatakan makan dan Konsumsi. Studi Di BMC Infectious Diseases Malahan menyebut Smart Phone sebagai mobile reservoir of microbes, Bersama mekanisme utama perpindahan bakteri Melewati jalur tangan-permukaan-mulut (hand-to-surface-to-mouth transmission). Pola penggunaan inilah yang membuat Smart Phone dipandang sebagai perantara kontaminasi silang, meski tidak bersentuhan langsung Bersama Konsumsi atau minuman.
Perbedaan ini Menunjukkan bahwa menilai risiko Perlindungan Ketahanan Pangan tidak cukup hanya Bersama melihat ada atau tidaknya bakteri, tetapi juga bagaimana bakteri tersebut berpindah Hingga tubuh manusia. Tanpa memahami jalur paparan tersebut, fokus Di satu benda saja Berpotensi Untuk menimbulkan rasa aman semu Di praktik kebersihan sehari-hari.
Halaman 2 Di 2
Simak Video “Video: HP Jadul Naik Daun Di Kalangan Gen Z, Kenapa?“
(fti/up)
Tumbler Dilarang Masuk
4 Konten
Larangan membawa tumbler diberlakukan Di sejumlah restoran. Aturan ini menuai pro dan kontra, baik Di sisi Usaha, etika, Kesejaganan, dan Malahan food safety.
Konten Berikutnya
Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Mana yang Lebih Rentan Terkontaminasi Di Tatakan Makan?











