Vancouver/New York –
Tuan Tempattinggal Trophy Dunia 2026 berharap banyak Di turis yang datang menonton. Sayangnya, mimpi itu belum juga terwujud.
Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Itulah peribahasa yang Bisa Jadi cocok Di industri hotel Hingga tempat berlangsungnya Trophy Dunia 2026 alias tuan Tempattinggal.
New York Times melaporkan ketidaksesuaian Ditengah permintaan konsumen dan ekspektasi hotel Pada ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingginya ekspektasi seputar Laga sepak bola terbesar Hingga dunia ini sempat membuat tarif akomodasi melonjak tak masuk akal. Julie Rahaman, seorang akuntan asal Alberta, hampir saja membatalkan rencananya Untuk datang Hingga Vancouver Setelahnya harga hotel Hingga sana meroket hingga mencapai Disekitar USD 1.000 (Rp 16.000.000) per malam.
“Sampai Ke titik Hingga mana rasanya sangat tidak masuk akal,” katanya.
Gara-gara biaya penginapan yang mencekik tersebut, ia Justru sempat terpikir Untuk menjual kembali tiket pertandingannya. Beruntung, Ke bulan Mei, harga hotel dilaporkan turun tajam. Julie pun langsung memesan ulang kamar Di tarif yang jauh lebih masuk akal, yakni Disekitar USD 285 (Rp 4.560.000) per malam.
Menurut laporan The New York Times (NYT), volatilitas atau ketidakstabilan harga ini menjadi bukti nyata bagaimana ekspektasi tarif Hingga kota-kota penyelenggara telah bergeser drastis Untuk beberapa bulan terakhir.
Padahal, FIFA awalnya memproyeksikan kehadiran lebih Di enam juta Pendukung Di potensi perputaran ekonomi Internasional mencapai Rp1.280 triliun (US$80 miliar). Tetapi, data industri Akomodasi Pada ini justru Menunjukkan hasil yang tidak merata Hingga berbagai kota tuan Tempattinggal.
Hingga New York, para pelaku industri Akomodasi terang-terangan mengaku kecewa Lantaran Perkembangan pendapatan Di Laga ini berada jauh Hingga bawah prediksi awal.
“Sangat mengecewakan dan tidak memuaskan,” kata Vijay Dandapani, kepala eksekutif Asosiasi Hotel Kota New York.
Data Di CoStar mengungkapkan bahwa tingkat pemesanan kamar Hingga beberapa kota besar seperti New York, Toronto, dan Miami Ke hari Laga justru lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ke awalnya, hotel-hotel menaikkan tarif mereka hingga 500 persen Lantaran Mengharapkan lonjakan permintaan. Tetapi, Lantaran pesanan yang masuk tidak sesuai ekspektasi, harga-harga tersebut akhirnya rontok. NYT mencatat bahwa koreksi harga paling tajam terjadi Hingga Vancouver dan Monterrey, merujuk Ke data Di Lighthouse Intelligence.
Lesunya pasar juga terlihat Di sektor penerbangan. Berdasarkan data Di perusahaan penerbangan Cirium, jumlah pemesanan tiket pesawat Di Uni Eropa Di beberapa kota tuan Tempattinggal Hingga Amerika Serikat justru menurun dibanding tahun lalu.
Bandara JFK (New York) Merasakan penurunan lebih Di 15% dibanding tahun lalu. Sambil Itu Bandara Internasional San Francisco Merasakan penurunan hampir 10%.
Padahal, FIFA sempat Menyaksikan bahwa Disekitar 40 persen Di total pengunjung Laga berasal Di luar negeri.
Meski begitu, beberapa kota dilaporkan berhasil melampaui ekspektasi. Kansas City, misalnya, mencatat lonjakan pemesanan hotel sebesar 32 persen. Pendapatan Di sewa akomodasi jangka pendek Hingga sana Justru melonjak dua kali lipat Di proyeksi semula berkat daya tarik Laga Regu-Regu papan atas. Tetapi, Gaya Hingga Kansas City pun Menunjukkan durasi menginap yang lebih singkat dan permintaan yang fluktuatif antar-Laga.
Asosiasi Akomodasi Hingga sejumlah kota menjelaskan bahwa kekacauan harga ini dipicu Dari FIFA sendiri. Blokade atau pemesanan kamar Untuk jumlah besar yang dilakukan Dari FIFA Hingga awal menciptakan “sinyal permintaan semu” (artificial demand). Hal inilah yang mendistorsi pasar dan membuat pihak hotel sempat memasang tarif terlampau tinggi Sebelumnya akhirnya permintaan tersebut mereda.
Kendati para pakar industri menilai prospek keseluruhan masih lebih baik dibanding tahun lalu, angka riil tetap berada jauh Hingga bawah target muluk yang ditetapkan Hingga awal. Situasi ini pun memicu Penilaian keras Di para Pendukung yang merasa dieksploitasi.
“Saya Berencana menyarankan para petinggi sepak bola Untuk Merencanakan Di serius apa yang mereka lakukan Di para Pendukung Di praktik penetapan harga tiket dan hotel ini,” kata Tom Boyer, seorang ayah Di dua anak yang sudah telanjur memesan kamar Marriott tarif non-refundable (tidak bisa Hingga-refund) Hingga Vancouver Dari awal April Untuk menonton dua Laga Trophy Dunia.
“Permainan ini seharusnya menyatukan orang. Praktik-praktik seperti ini memecah keuntungan,” tambahnya.
(bnl/ddn)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Kecewanya Hotel-hotel, Trophy Dunia Belum Bikin Untung











