Kol Goreng Tak Sehat Sebab Jelantah, Bisakah Diganti Energi Lain?

Jakarta –

Kehadiran kol goreng sebagai pendamping makan malam kerap menimbulkan pertanyaan Yang Berhubungan Di dampak kesehatannya.

Banyak orang meyakini bahwa mengganti Energi kelapa sawit biasa Di Energi yang Dikatakan lebih sehat, seperti olive oil atau Energi Terbaru, dapat membuat kol goreng sepenuhnya bebas Untuk risiko Penyakit.

Tetapi, apakah jenis Energi yang digunakan benar-benar memengaruhi tingkat Perlindungan kol goreng Untuk tubuh?


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbandingan Energi Terbaru dan Energi Jelantah?

Untuk sudut pandang gizi, menggunakan Energi Terbaru atau jenis Energi berkualitas memang Memberi nilai tambah dibandingkan Energi pedagang yang dipanaskan berulang kali.



Penggunaan Energi jelantah terbukti Meningkatkan risiko pembentukan lemak trans dan senyawa asam lemak berbahaya.

Praktisi Medis spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa pengolahan mandiri Di jenis Energi yang tepat relatif lebih aman Untuk paparan zat berbahaya.

“Kalo dibandingkan sama beli Hingga luar ya pasti jauh lebih aman ketika pake olive oil ya. Atau mau masak Hingga Rumah Di Energi yang nggak digoreng berkali-kali, Energi Terbaru lah intinya. Kalo misalnya disamain sama yang Hingga luar, udah pasti yang dibikin sendiri lebih aman,” jelas dr Yaze kepada detikcom, Jumat (16/10/2026).

Suhu Tinggi Merusak Konsumsi Bergizi Kol

Walaupun menggunakan jenis Energi terbaik, proses penggorengan suhu tinggi (Hingga atas 150 hingga 180 derajat celcius) tetap Memberi dampak buruk Pada gizi alami kol.

Pemanasan ekstrem Berencana memecahkan dinding sel sayuran serta merusak vitamin C, asam folat, dan antioksidan yang sensitif Pada suhu panas.

“Cuman tetep sama kayak tadi, vitamin sama antioksidannya bisa pecah atau bisa rusak ketika kita manasinnya lebih Untuk 60 derajat sampai 100 derajat celsius. Dari Sebab Itu memang dia cuman dipanasin sebentar gitu, itu masih oke,” paparnya.

Efek Spons dan Risiko Energi Berulang

Penggunaan jenis Energi apa pun tidak mengubah sifat fisik kol yang bertindak seperti spons Di dimasukkan Hingga Untuk wajan panas.

Ketika air Hingga Untuk kol menguap, rongga-rongga kosong tersebut Berencana terisi Dari Energi, Supaya sajian ini tetap menjadi Konsumsi yang sangat padat kalori dan kaya lemak.

“Terus Sebab terlalu dipanasin, terlalu panas nih, apalagi misalnya dipanasinnya pakai Energi jelantah atau Energi yang dipanasin berkali-kali Di suhu yang tinggi, yaudah pasti dinding sel kolnya itu pasti bakal pecah,” katanya.

“Terus air didalamnya juga menguap. Nah Sebab dia menguap, rongga kosongnya itu malah diisi sama Energi tadi. Energi yang ternyata udah punya beberapa resiko,” lanjutnya.

Pilihan jenis Energi memang berpengaruh Pada Mutu kebersihan dan tingkat bahaya radikal bebas, Tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan risiko penumpukan kalori dan kerusakan Konsumsi Bergizi Di kol goreng.

Halaman 2 Untuk 2

Simak Video “Video: Punya GERD, Amankah Menyantap Daging Kurban?“
(aur/up)


Dilema Kol Goreng

6 Konten

Kol segar merupakan sayuran yang punya banyak kandungan Konsumsi Bergizi bermanfaat. Kalau digoreng, bukan hanya manfaatnya berkurang. Minyaknya juga membawa risiko Untuk Keadaan.

Konten Berikutnya

Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya


Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Kol Goreng Tak Sehat Sebab Jelantah, Bisakah Diganti Energi Lain?