Bisnis  

Garuda Catatkan Anomali Positif Ke Di Beban Avtur Industri Aviasi Internasional

loading…

Kinerja keuangan Garuda Indonesia Group Di Semester I 2026 menorehkan catatan positif. Pendapatan Garuda tumbuh 16,0% menjadi USD1,80 miliar Bersama USD1,55 miliar Di Semester I 2025. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA – Industri penerbangan Internasional kembali Berjuang Bersama turbulensi. Demand masih ada, tetapi lonjakan biaya bahan bakar mulai menekan margin dan profitabilitas sejumlah maskapai besar dunia.

Singapore Airlines, misalnya, masih membukukan Perkembangan revenue, Akan Tetapi operating profit tertekan tajam seiring lonjakan biaya bahan bakar. Lufthansa Group juga mencatat revenue yang tetap tumbuh, tetapi adjusted EBIT berbalik negatif Ke Di tekanan biaya. Baca juga: Krisis BBM Mencekik Eropa, Kini Giliran Avtur Alami Kelangkaan

Pemicunya bersifat Internasional. Konflik Ke Timur Di yang memanas Dari akhir Februari 2026 mengganggu pasokan energi dunia. Data International Air Transport Association (IATA) mencatat harga jet fuel Internasional Di puncaknya Ke April 2026 naik Disekitar 121% dibandingkan April 2025. Sebagai sepanjang 2026, IATA Meramalkan harga jet fuel rata-rata USD152 per barel, hampir 70% lebih tinggi Bersama rata-rata 2025.

Tekanan yang sama juga terasa Ke industri penerbangan nasional. Pengamat penerbangan sekaligus Ketua APJAPI Alvin Lie Justru menyebut periode Agustus hingga November 2026 sebagai “masa-masa kritis” Untuk maskapai. Tekanan datang bersamaan Bersama harga bahan bakar, pelemahan Kurs Matauang Nasional, hingga periode low season.

Besarnya pengaruh avtur Pada struktur biaya maskapai juga disoroti pengamat penerbangan Gerry Soejatman. Menurutnya, avtur dapat menyumbang lebih Bersama separuh biaya maskapai, Sambil Disekitar 90% komponen biaya penerbangan menggunakan Kurs Matauang Asing. ”Kombinasi harga bahan bakar dan pelemahan Kurs Matauang Nasional membuat ruang maskapai menjaga margin menjadi Lebih sempit,” katanya, Kamis (1/10/2026).

Di konteks tersebut, kinerja keuangan Garuda Indonesia Group Di Semester I 2026 menjadi Menarik Perhatian.
Pendapatan Garuda tumbuh 16,0% menjadi USD1,80 miliar Bersama USD1,55 miliar Di Semester I 2025. EBIT naik 12,7% menjadi USD74,0 juta, EBITDA naik 5,8% menjadi USD431,6 juta, Sambil rugi bersih menyusut 23,2% menjadi USD113,0 juta Bersama USD147,1 juta.

Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Garuda Catatkan Anomali Positif Ke Di Beban Avtur Industri Aviasi Internasional