loading…
Kusfiardi. Foto/Istimewa
Analis Ekonomi Politik dan Co-Founder FINE Institute
PERNYATAAN Purbaya Yudhi Sadewa bahwa Negeri menggelontorkan Disekitar Rp2 triliun per hari Untuk meredam gejolak Idr tidak lain adalah tindakan bakar duit. Tindakan serupa juga dilakukan BPI Danantara . Artinya Negeri Lebih aktif masuk Di pasar keuangan menggunakan sumber daya yang sangat besar Untuk menopang harga aset.
Ketika pemerintah membeli SBN Ke pasar sekunder, menempatkan likuiditas Lewat BUMN atau Himbara, hingga Mendorong entitas Negeri masuk Di pasar Di tekanan Meresahkan, pasar membaca bahwa stabilitas tidak lagi sepenuhnya dibentuk Didalam mekanisme fundamental, tetapi Didalam kekuatan intervensi Negeri. Untuk jangka pendek, langkah ini memang dapat meredam panic selling, menjaga yield obligasi, serta menahan pelemahan Idr . Tetapi Ke sisi lain, muncul persepsi bahwa Negeri Untuk “membakar uang” Untuk mempertahankan kepercayaan pasar yang rapuh.
Masalahnya, praktik seperti ini perlahan menggeser fungsi Negeri Untuk regulator menjadi Olahragawan pasar. Negeri tidak lagi sekadar menjaga stabilitas sistem keuangan Lewat instrumen Aturan, tetapi mulai aktif menopang harga aset secara langsung menggunakan dana publik. Untuk Kepuasan pasar yang sehat, harga obligasi, Nilai Mata Uang, dan indeks saham seharusnya mencerminkan fundamental ekonomi, ekspektasi Perkembangan, produktivitas, serta persepsi risiko investor. Tetapi ketika Negeri terlalu agresif masuk Di pasar Untuk menjaga sentimen, maka mekanisme pembentukan harga menjadi bias. Harga aset tidak lagi sepenuhnya mencerminkan Kepuasan riil ekonomi, melainkan ekspektasi Pada kekuatan intervensi pemerintah.
Baca Juga: Idr Tertekan, Ichsanuddin Noorsy: Beban Fiskal dan Sektor Riil Kian Berat
Ke sinilah problem moral hazard mulai muncul. Investor dan pelaku pasar dapat membaca bahwa ketika tekanan pasar terlalu besar, Negeri Akansegera turun tangan sebagai penyelamat. Dampaknya disiplin pasar melemah. Risiko tidak lagi dihitung berdasarkan fundamental ekonomi semata, tetapi berdasarkan keyakinan bahwa pemerintah tidak Akansegera membiarkan pasar jatuh terlalu Untuk. Situasi ini menciptakan ketergantungan pasar Pada intervensi Negeri. Lebih sering pemerintah masuk menopang pasar, Lebih besar pula ekspektasi bahwa Negeri Akansegera terus hadir menyerap tekanan. Untuk jangka panjang, pasar menjadi artifisial dan rapuh Sebab daya tahannya bukan berasal Untuk kekuatan ekonomi domestik, melainkan Untuk kapasitas Negeri menggelontorkan dana stabilisasi.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Malapraktik Penguatan Idr dan IHSG











