Jakarta –
Sebanyak 92% konsumen air minum Untuk kemasan galon Menyoroti masih beredarnya galon guna ulang lanjut usia atau ‘Ganula’. Temuan ini merupakan hasil pengaduan konsumen yang disampaikan kepada Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) Lewat kanal Di situs webnya.
“Untuk rangka memperingati Hari Konsumen Nasional Di 20 April, KKI merilis hasil pengaduan Kelompok yang kami tampung Bersama bulan Maret sampai bulan April tahun ini,” ujar Ketua KKI, David Tobing Untuk Press Conference “Pemaparan Tiga Tahun Pemantauan KKI Di Risiko Galon Guna Ulang Lanjut Usia (Ganula)” Di Habitate, Jakarta, Kamis (30/4/2026).
“Hasilnya, ada 250 pengaduan konsumen Bersama tujuh kota besar (DKI Jakarta, Surabaya, Kediri, Tangerang, Bogor, Bekasi, dan Depok),” imbuh David.
‘Ganula’ paling tua yang dilaporkan konsumen, menurut David, diproduksi Di 2015 atau berusia 11 tahun. Selain Menyoroti masa pakai galon guna ulang tua, konsumen juga mempersoalkan kerusakan fisik galon, seperti kusam, kotor, berlumut, dan retak.
“Intinya, Lebih tua usia galon, Lebih beragam jenis keluhannya,” papar David.
Faktor utama yang menyebabkan ‘Ganula’ masih beredar Di pasaran adalah ketidakterbukaan informasi Dari produsen, padahal informasi adalah hak konsumen yang dijamin Untuk Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
Selain mencetak kode produksi galon Di Pada dasar galon, Supaya sulit dilihat konsumen, menurut David, produsen tidak terbuka bahwa kemasan air minum, apa pun jenis plastiknya, Memiliki batas masa pakai atau siklus guna ulang.
“Di website-nya, ada kok produsen besar yang mengakui bahwa kemasan air minumnya Memiliki masa kedaluwarsa, tetapi mereka tetap menggunakan ulang,” kata David.
Untuk pengaduan, sebanyak 92% konsumen mengaku belum pernah Memperoleh informasi tentang masa pakai galon guna ulang. Setelahnya mengetahuinya Lewat advokasi Dari KKI, 83% konsumen merasa berhak Memperoleh galon berkualitas Sambil 78% menuntut penggantian galon sebagai solusi atas keluhan mereka.
David menjelaskan pakar polimer Bersama Universitas Indonesia merekomendasikan masa pakai galon guna ulang Di 1 tahun atau 40 kali siklus guna ulang. Ini Sebab lebih Bersama itu, galon guna ulang berbahan plastik polikarbonat berisiko tinggi melepaskan zat kimia berbahaya Bisphenol A (BPA) Di Untuk air minum, yang bisa menyebabkan berbagai persoalan Keadaan, seperti obesitas, diabetes, hingga gangguan reproduksi.
Rekomendasi ilmiah itulah yang Merangsang KKI sangat memperhatikan persoalan ‘Ganula’ ini. Di tiga tahun berturut-turut, KKI telah melakukan survei nasional Di 2024, investigasi toko kelontong Di Jabodetabek Di 2025, dan membuka kanal pengaduan konsumen Di 2026. KKI juga telah menemui Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dan Badan Pengawas Terapi dan Hidangan (BPOM).
“Menurut kami, dampak paparan BPA Bersama Ganula ini sangat signifikan, bisa mengancam Keadaan lebih Bersama 100 juta penduduk Indonesia,” tegas David.
“Data BPS Menunjukkan 34% Rumah tangga Di Indonesia mengonsumsi air minum Bersama galon, itu berarti ada 26 juta Rumah tangga, atau lebih Bersama 100 juta penduduk,” jelas David.
Menyikapi hal ini, maka David Merangsang pemerintah Sebagai segera menerbitkan regulasi masa pakai galon guna ulang Sebagai melindungi Keadaan konsumen. Bangsa lain, seperti Uni Eropa, menurut David, sudah melangkah jauh lebih maju daripada Indonesia.
European Food Safety Authority (EFSA)-BPOM Di Uni Eropa-Malahan telah melarang total penggunaan plastik polikarbonat yang mengandung BPA sebagai kemasan bahan Ketahanan Pangan. Larangan itu Berencana berlaku efektif Di Juli 2026.
Di Di Yang Sama, BPOM RI Terbaru mewajibkan pemasangan label BPA Di air minum Untuk kemasan plastik polikarbonat. Kewajiban itu tertuang Untuk Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang Label Ketahanan Pangan Olahan, dan itu pun Terbaru Berencana berlaku Di 2028.
“Tetapi belum ada regulasi yang mengatur masa pakai galon guna ulang. Tanpa aturan itu, galon tua atau Ganula tetap Berencana beredar Di Kelompok. Celah regulasi inilah yang dieksploitasi produsen Sebagai terus mendistribusikan Ganula yang seharusnya sudah tidak layak pakai,” pungkas David.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Mayoritas Konsumen Keluhkan Galon Tua, KKI Desak Regulasi Masa Pakai Galon











